Sabtu, 14 Oktober 2017

PUISI CINTA: MIMPI

MIMPI

Pagi ini,di antara rindang tumbuhan-tumbuhan kebun,di satu sudut pulau borneo,anganku melayang kembali ke masa sekian tahun silam, masa anak-anak. Banyuwangi,kota kecil di penghujung timur  pulau jawa,pada sebuah desa tempat aku di lahirkan, dalam budaya suku oseng yang masih sangat kental. Bersama waktu ku lalui hari, berkejar-kejaran dengan teman sebaya di pematang sawah, berlarian dan kadang bergulat dengan lumpur di sawah-sawah penduduk, berburu  burung-burung puyuh dan berharap menemukan sarangnya lengkap dengan telur-telur di dalamnya,atau hanya untuk sekedar mencari buah ciplukan (entah apa nama dalam bahasa indonesia). Di lain waktu bersama teman-teman kami berlarian di pinggir pereng (tebing) mencari buah-buah hutan atau berburu buah mangga yang tumbuh liar di pinggir tebing-tebing terjal, saat sudah puas dan kelelelahan  biasanya akan kami akhiri dengan bersama-sama menceburkan diri ke sungai, bermain air bersama dalam tawa canda, sebuah keceriaan masa anak-anak dalam kesederhanaan dan ketulusan dan di balut sebuah kebahagiaan. Sebuah kenangan masa anak-anak yang tak mungkin bisa kulupakan.

Dan entah kenapa setiba-tiba ini terlintas keinginan untuk bisa kembali dan menetap tinggal di tanah kelahiran BANYUWANGI. Bersama kamu, menghabiskan waktu dan menikmati masa tua  dan menunggu TITIK bersama-sama. Tinggal di sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuknya kendaraan, memulai hari dengan  minuman hangat dan kudapan kecil di teras rumah, memandang hamparan indah bunga-bunga yang bermekaran di halaman,bersama kita larut dalam cerita dan karya. Hidup bersama dalam kesederhanaan,sebuah rumah mungil dengan halaman yang luas dan dipenuhi dengan pohon buah-buahan dan hamparan bunga berwarna warni, tak ada duka dan hanya ada tawa penuh kebahagiaan.

Auw,ku tepuk pipi kiri ku dan rupanya terlalu keras sehingga meninggalkan rasa sakit. Bangun dan sadarlah wanita pemimpi, berhentilah bermimpi,kembalilah ke dunia nyata, tinggalkan alam bawah sadarmu! Cukup nikmati saja kebahagiaan mu saat ini, jangan pernah berharap lebih!!

Dan pada akhirnya semua itu hanyalah mimpi,sebuah keinginan dan harapan yang di bangun dari sebuah mimpi masa anak-anak.

Bersama bulir bening yang tiba-tiba mengalir dan membentuk anak sungai di pipi, ku coba tersenyum,menikmati dan mensyukuri rasa ini.

Hai lelaki berambut perak, pagi ini aku sangat merindukanmu..


Di sudut kota, 15102017








Minggu, 10 September 2017

Puisi Cinta; WANITA PENGHUJUNG SENJA

WANITA PENGHUJUNG SENJA

Seulas senyum wanita tua
Lepas di bibir wajah rentamu
Tak henti jari keriputmu
Memungut bilahan pisang kering
Bak memungut taburan intan permata

Pada gurat wajah rentamu
Semangat jelas terlihat
Pada sorot mata tuamu
Harapan jelas kau tunjukkan
Berjuang tundukkan congkaknya dunia
Di sisa hidupmu yang entah sudah dimana

Teruslah berkarya wanita penghujung senja
Sebarkan aura positif kepada dunia
Tunggulah TITIK dengan bahagia

Di sudut kota seribu sungai, 08092017

Puisi Cinta; PESONA POHON KARET


PESONA POHON KARET

Berdiriku di sini
Di antara deretan pohon karet tinggi menjulang
Kusandarkan tubuh lelahku
Berpijak pada kenangan kenangan tentangmu
Mengumpulkan sisa sisa kekuatan dari kepingan kenang

Masih tetap di sini
Tegar ku berdiri
Kulabuh semua mimpi yang pernah kubangun
Ku selami semua mimpi tentang kita
Bersama asa seperti pohon karet yang tak pernah menyerah
Walau penuh luka perih yang tak di rasa


Di sudut kota seribu sungai, 08092017

Puisi Cinta; LELAKI BERAMBUT PERAK


LELAKI BERAMBUT PERAK

Memang benar adanya, ada rasa yang tak bisa ku mengerti sampai saat ini, rasa selalu ingin mengabdi, rasa ingin selalu menyayangi, mengalah dan selalu memaafkan, rasa yang selalu terjaga walau sering bertabur luka.

Aku juga tak bisa mengerti, ada rasa tak berdaya saat ku tatap mata tua mu, rasa kepasrahan dan selalu berusaha memaklumi alasan alasan yang keluar dari bibirmu, walau aku tahu tak semua tulus keluar dari bibirmu, walau terselip kebohongan kebohongan yang mungkin karena suatu alasan atau mungkin kesengajaan, yang terkadang begitu menyakitkan hingga akupun tak tahu harus menangis ,menjerit ataupun berontak, namun tetap saja aku tak kuasa berbuat apa apa, aku hanya mampu terdiam dan bibirku terbungkam oleh pesona gurat tegas wajah tua mu.

Begitu agungnya rasa ini, terkemas dalam kepasrahan suci, seperti ketertundukan seorang hamba terhadap tuannya, keinginan untuk selalu mengabdi pada kebahagiaanmu, bahkan terkadang ada rasa ketidakpedulian seandainya bukan bahagia, tapi luka yang akan kau beri.  Lelaki berambut perak, aku menyayangimu...



Di sudut kota seribu sungai, 08092017

Sabtu, 26 Agustus 2017

Puisi Cinta; WANITA PEMUJA CINTA

WANITA PEMUJA CINTA

Seuntai senyum dibibir pucat pasi
Tubuh molek indah gemulai
Berbalut benang2 kusut
Tipis setipis kulit ari
Kaupun tak peduli
Dosa pun tak kau sesali
Ajab neraka tak kau kenang lagi

Bangun dan sadarlah wahai wanita
Untuk apa kau lakukan semua

Bangun dan sadarlah wahai wanita
Jangan biarkan dirimu penuh noda

Bangun dan sadarlah wahai wanita
Tegak dan berlarilah tinggalkan semua dosa

Dan......
lirih suaramu berkata
 "Semua demi kekasih hati
  Untuk memuaskan pangeran hati
  Demi meraih cinta pujaan hati
  Kepadanya,
  Akupun rela melacurkan diri
  Tiada  paksaan
  Ku jalani dengan penuh keikhlasan
  Pasrah mengabdi pada cinta suci
  Walau aku tahu hanya cinta satu sisi"

Wahai wanita yang melara
semoga usahamu tak sia sia
Kelak,
Duka lara yang kau terima
Berbuah indah berbingkai bahagia
Dan,
Bertaubatlah akan semua dosa dosa


Banjarmasin
Penghujung senja,  26 Agustus 2017

Senin, 24 Juli 2017

Puisi Cinta: KU SUNTING SEPI

KU SUNTING SEPI

Senja yang kering
tak sedikitpun basah
Kerikil kerikil putih kecil runcing
berserakan di antara daun kering
Berikan nyeri pejalan kaki

Binatang binatang tak bertuan
Berdesakan berebut makanan
remah remah yang tak pernah ramah
Mungkin juga racun penuh bisa

Senja yang sepi
senyum nakal pejalan kaki
Entah apa yang mereka tawarkan
Budi ataupun pengandaian
Tak penting untuk dipedulikan

di sini tegak ku berdiri
Dengan senyum semanis bidadari
Tanpa kamu kita atau kami
Dan,
Ku sunting sepi dengan puisi


Banjarmasin, 25072017




Jumat, 21 Juli 2017

Puisi cinta: ANTARA BAYANG

ANTARA BAYANG

berdiri di antara bayang
kelam dan kesakitan
putih dan kebahagiaan
kenyataan dan kepalsuan

berdiri diantara bayang
bak bola api panas
membakar pesakitan
hanguskan semua nadi
sisakan debu debu hitam
tinggalkan perih tak tertahankan
terkemas  pada senyum manis

berdiri diantara bayang
bak bola salju
dingin bekukan urat nadi
lumpuhkan syaraf syaraf nyeri
hilangkan semua rasional diri
mencoba menikmati
bahagia satu sisi


 Banjarmasin, 22072017


Sabtu, 03 Juni 2017

Puisi : Aku

AKU

Aku...
Bukan siapa-siapa
Bukan untuk siapa
Bukan demi apa

Aku...
Akan tetap menjadi aku
Terjaga hatiku
Terjaga senyumku
Dengan segala kekurangan & kelebihan ku


Binuang, 04062017

Puisi Cinta : Lelakiku

LELAKIKU

Geliat tubuh mungilmu
Tendangan kaki lincahmu
Gelitik jari-jari lentikmu
9 bulan kita  bersama
Dalam satu aliran darah

Berbagi cinta
Berbagi rasa
Berbagi suka
Tawa canda
Tak ada lagi duka
Hanya ada bahagia

Enam belas tahun sudah berlalu
Kini kau menjelma anak remaja
Masih lekat dalam ingatku
Saat pertama kali kau panggil  "mama"
Sebuah kata terucap dari bibir mungilmu
Begitu merdu bak syair dari surga
Celotehmu itu penyemangatku
Senyummu itu obat letih ku

Lelakiku
Tetap lah tersenyum
Tak perlu gentar ataupun ragu
Hadapi congkak dunia dengan tawa
Dinadimu doa mama selalu bertahta
Menjelmalah kamu sebagai kebanggaan keluarga

Selamat Ultah DARMA ku
Segala doa tebaik untuk mu
Mama menyanyangimu......


Banjarmasin, 27 mei 2017


Senin, 08 Mei 2017

Puisi: KABAR DARI ANGIN


KABAR DARI ANGIN

adakah yang lebih sakit
saat angin menyapamu pongah
mengabarkan sebuah cerita
tentang dua anak manusia
melakukan pertemuan terencana
berbingkai indahnya pulau dewata

malam pun tak lagi tawarkan gigil
sejuk pun tak lagi ditemukan
hanya rasa perih yang tersisa
kepercayaan yang terkoyak-koyak
tinggalkan luka robek bernanah
dari sebuah asa yang kau balut dusta

padamu angin
ingin ku bertanya
pantaskan aku terus meluka

bersamamu angin
ingin aku bercengkerama
bulir bening kita bawa tertawa

dekap aku lagi angin
berikan lagi aku gigil
tak perlu lama, sebentar saja
mari kita sembunyikan luka

By; Ajeng Lastrie
Banjarmasin, 9 Mei 2017


Sabtu, 06 Mei 2017

Puisi: ANGIN SEPOI-SEPOI


ANGIN SEPOI-SEPOI


jingga di ufuk timur
embun pamit diri tebarkan senyum
hangat mentari menyapa bumi
angin sepoi-sepoi datang menari
sebarkan aroma wangi rerumputan

bersama angin sepoi-sepoi
aku mengirimkan hatiku
berharap wanginya menyentuh nafasmu
lembut menyentuh sukma mu

bersama angin sepoi-sepoi
aku mengirimkan jiwaku
lantunkan kidung-kidung rindu

angin sepoi-sepoi terus menari
ikuti irama indah melambai
kehangatan yang tersaji
tebarkan gairah dan inspirasi




Pulanglah dan cepat kembali......
Banjarmasin, 7 mei 2017


Selasa, 02 Mei 2017

Puisi: Senyum Di Celah Daun

SENYUM DI CELAH DAUN


Senja yang temaram
Gerimis yang tiba-tiba datang
Lewat balik jendela
Nanar mata memandang keluar
Pada hamparan daun kering berserakan

Menerawang jiwa menjelajah waktu
Pada sebuah daun angan tertuju
Hijau daun yang menyejukkan
Kobarkan semangat dan mengindahkan
Bermainku dengan angan
Terbalut kebahagiaan

Sontak ku terjaga
Hijau daun tak lagi sempurna
Daun ku layu...!!!

Kenapa??? ....... Tanyaku
"Kamu tak menyiramnya!!''
"Kamu tak memupuknya!!''
"Kamu menelantarkanya!!"

Berjuta tanya sesakkan dada
Yang tak pernah ku temukan jawabnya
Hanya pilu yang melara
Menjelma senyum di celah daun



Senja ini, aku begitu merindukanmu..
Banjarmasin, 2 Mei 2017

Senin, 01 Mei 2017

PUISI:Cerita Senja

KISAH SENJA

Senja yang tak lagi jingga
Larut kita bersama waktu
Mendongengkan cerita pilu
Tentang resah berbalut derita

Tak sedikitpun ucapku mampu
Dalam diam bibir yang kelu
Mungkin juga biru
Gigil yang menyergap tiba-tiba
Perih yang mengiris dada
Tanpa ku tahu maknanya

Bersama senja
Yang tak lagi tawarkan jingga
Hanya kegelapan aib belaka
Terbalut keberanian dan kejujuran
Bersanding bulir-bulir bening

Tak merubah apapun
Aku tetap mengagumi mu..


Banjarmasin, 15 Agustus 2016


Jumat, 28 April 2017

PUISI: OMBAK

OMBAK

Riak putih indah berarak
Kejar mengejar tak mau berhenti
Lembut jilati bibir pantai
Deburmu nyanyikan seuntai lirik
Bak kidung cinta taman surgawi
Damai sejukkan sanubari

Tak jarang kau terluka
Terhempas bebatuan
Terhempas karang-karang
Engkau tetap tak peduli
Akan sakit yang kau alami
Perih, kau tanggung sendiri

Namun,  saat badai datang
Deburmu tak lagi damaikan diri
Lantang kau berteriak
Hingga hadirkan pekak
Engkau pun tak lagi perduli
Akan sakit yang kau beri
Akan pilu yang kau saji
Perih mengiris hati

Ombak tetaplah ombak
Menjelmalah seperti yang kau mau
Dengan kesadaran pasti
Semua tak ada yang hakiki
Megabdilah pada Takdir Illahi


Dini hari, 29 April 2017














"Puisi Pendek"



Hujan seperti mengetuk pintu,
ku buru gemuruh suaranya,
ku pikir itu kamu,
ternyata hanya air saja,
dalam gigil namamu terus kupanggil...

PUISI: TIRAI MERAH MUDA

TIRAI MERAH MUDA

Dalam lingkaran waktu
Setahun pun berlalu
Di bawah langit yang sama
Sejuk ruang  bertirai merah muda
Yang tak mampu redakan panas gelorah
Kita hirup udara bersama
Dalam diam kita bercengkrama
Tanpa sekat  tanpa jarak

Dan,
Tak ada lagi perdebatan
Dimanakah si pintar
Dimanakah si bodoh
Tak ada lagi kamu
Tak ada lagi aku
Hanyalah kita

Lalu,
Haruskah kenang itu kita hapus dari ingatan
Saat lirih suaramu
Bisikkan kalimat indah damaikan jiwa
Dan aku hanya mampu katakan "iya"
Janji suci??
Atau mungkin hanya sebatas angin surgawi

Kini,
Terperangkap ku dalam rasa
Walau kadang  kecewa menghampiri
Cemburu mewarnai
Amarah pun menghiasi
Dan keinginan tuk berlari pun meracuni

Duhai tirai merah muda
Cukuplah kamu menjadi saksi
Aku pergi atau kembali
Dengan atau tanpa mimpi
Usah kau tanyakan lagi.....



Banjarmasin, 27 April 2017


















Selasa, 25 April 2017

MATRE

MATRE 
( menurut saya ) 

Adalah sebuah kata yang mengandung rasa rasa subjektif dan belum bisa diberi pengertian tunggal sehingga menjadi bersifat multi tafsir serta sangat berpotensi membinggungkan dalam pemakaian serta pengungkapannya di keseharian. 

Hal tersebut dimungkinkan terjadi karena, secara makna, kata tersebut dimaksudkan bagi sifat yang terlalu mengutamakan uang tanpa memikirkan hal hal lain selain uang tersebut, tapi dalam penerapan pemakaiannya di pergaulan keseharian, sering sering dipakai untuk hal hal yang tidak mutlak begitu, sehingga cendrung menjadi kata penghakiman terhadap hubungan antar manusia yang mengandung perbedaan tingkat kemampuan ekonomi ( kekayaan ). Seolah si miskin yang berhubungan dengan si kaya, pastilah berlatar uang semata, dan selalu dicap matre. Dan hal seperti itu, tentunya akan menimbulkan ketersinggungan, perdebatan, perkelahian serta kegaduhan sosial yang lain. 

Bagi saya pribadi, semua hubungan sosial yang terjadi antar dua insan manusia, tidak harus dihakimi seperti itu, karena dalam hubungan kemausiaan itu bersifat multi dimensi, sehingga diluar dimensi sosial kemanusiaannya, tentunya akan terkandung pula dimensi lain, termasuk dimensi ekonomi dan terlibatnya uang serta segala sumber daya. Dengan demikian matre, dalam makna penghakiman tersebut, tidak harus dilakukan karena setiap hubungan adalah matre adanya ( dalam pengertian memerlukan materi ). 

Dengan memperhatikan hirarki kebutuhan maslow, yang megraduasi tingkat kebutuhan manusia mulai dari kebutuhan faaliah, rasa aman, kasih sayang, penghargaan dan aktualisasi diri, akan terlihat bahwa pada semua hirarki kebutuhan tersebut terlibat materi. Orang jawa mengatakan, jer basuki mawa bea, semuanya butuh pengorbanan dan semuanya pada prinsipnya matre. 

Secara lebih sederhana, dikenal juga adanya tiga kelompok kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Dan pemenuhan ketiga kebutuhan itupun memerlukan biaya dan berhubungan dengan ke matre an seseorang. Sehingga hubungan yang matre adalah hubungan yang normal terjadi dan penilaiannya tergantung dari tingkat ke matre annya. Yang tidak matre adalah manusia yang terbodoh, setidaknya dari aspek ekonomi dan yang matre adalah wajar serta normal sedangkan yang sangat matre adalah orang orang yang senang memanfaatkan orang lain. 

Hubungan yang terlalu matre, bukan lagi hubungan sosial, bahkan bukan hubungan bisnis ekonomi tapi cendrung merupakan hubungan dengan atau antar serigala. Bukanlah manusia bukan hanya dapat menjadi makhuk sosial tapi juga bisa merupakan srigala bagi manusia yang lain. 

Yang jelas, saya bukan srigala 
Tapi saya juga tidak mau digolongkan bodoh 
Sehingga saya memilih menjadi " MATRE ", sebagai manusia normal dan sewajarnya, bukan makhluk langit yang tidak butuh materi, yang tidak suka uang. Saya menyukai materi, termasuk uang, secara wajar dengan mensyukuri rejeki yang saya dapatkan dariNya. 

Anda bagaimana ?

Puisi : Penguasa

PENGUASA

Siang yang pongah

Membungkam gelegar seluruh suara
Tecekat dan hanya sisakan rintihan lirih
Perih terpanggang terik sang surya
Panas kemurkaan menjawantah jagat raya

Wajah jelata tak berdosa

Pasi tertindas oleh yang maha
Teriakan hanya mampu ditelan kembali
Tertunduk lesu pasrah
Mengabdi pada ketidakadilan

Di seberang sana

Sorak  penonton  riuh gempita
Rayakan kemenangan simbol belaka
Terlena pada kemegahan dunia
Tertawakan murka sang penguasa

Wahai  penguasa

Buka mata hatimu
Perluas sudut pandang mu
Pertajam pendengaranmu
Jangan biarkan terik panas hanguskan jiwamu

Wahai  penguasa

Bangun dan sadarlah
Tetaplah terjaga demi visi yang maha
Jangan biarkan senyum palsu itu racuni sukma

Di pundak mu nasib jelata bertahta......



By: Ajeng Lastrie

Banjarmasin, 25 April 2017
(Bersibaku dalam kecewa)










Sabtu, 15 April 2017

PUISI CINTA: Matahariku

MATAHARIKU

Berjuta bias warna terangmu 

Membakar lembut urat nadiku
Meluluhkan berjuta luka lara ku
Mempuisikan indahnya waktu

Terbuai sempurna matahariku

Sinarmu menyusup ke lubuk sanubariku
Terangi jalan hidupku

Sejenak luluh meronta jiwaku

Takutku hilangnya hangat sinarmu
Namun, diamku tetaplah mengagumiku
Mengabdi pada guratan takdirku
juga takdirmu........


Puisi Cinta: Rasa

RASA

Rasa...

Untuk siapa kau ada
Jika hadirmu tawarkan bahagia
Siapkah kau ku peluk manja
Sudikah kau berlama-lama
Mari kita bercengkerama
Tentang duka nelangsa

Rasa

Untuk siapa kau singgah
Jika hadirmu tawarkan luka
Sudikah dadamu menampung airmata ini
Relakah kau berjaga temani malam
Mari kita berbagi cerita
Bukan tentang kesedihan tapi bahagia

Rasa

Akankah kau tetap setia
Akankah kau tetap bertahan
Kala sukma tercabik sembilu perih bernanah
Kala raga tertancap paku-paku luka berkarat
Kecewa cemburu melanda

Rasa tetaplah rasa

Tak hilang oleh amarah
Tak mati oleh kebencian
Tak sirna oleh lara
Tabah menerima
Pasrah mengabdi sanubari......


by: Ajeng Lastrie

Banjarmasin, 
dini hari, 16 Maret 2017



Jumat, 14 April 2017

Puis Cinta: Cinta

CINTA

Cinta...
Pelangi puitis yang tak sama makna
Manja mengharap bagi yang kasmaran
Hampa mengiris bagi yang kehilangan
Rindu mengharap bagi yang merindukan
Khayalan tanpa batas bagi yang tak teraih

Cinta...
Ibarat alunan nafas sebuah jiwa
Tak perlu diteriakkan keras atau dipaksa untuk di akui
Sebuah keagungan di balut pengorbanan
Cukup diam dengan syarat makna lewat sikap
Terkadang tak perlu selalu bersama dan cukup lewat rasa

Cinta...
Terkadang disemukan oleh keindahan fisik
Dikaburkan dengan gerlap materislistis
Cinta hanya perlu kejujuran hati
Jika cinta mulai mengusik, relakan binar motivasi hujani diri

Cinta...
Perlukah kita perdebatkan lagi maknanya
Sesederhana ketika aku memandangmu
Sesederhana ketika aku melihat bahagia terpancar dimatamu
Sejujur aku menampakkan rasa sayangku
Cukuplah itu; makna cinta bagiku




Banjarmasin, Februari 2017