Butiran Debu

Jumat, 28 April 2017

"Puisi Pendek"



Hujan seperti mengetuk pintu,
ku buru gemuruh suaranya,
ku pikir itu kamu,
ternyata hanya air saja,
dalam gigil namamu terus kupanggil...
Diposting oleh Butiran Debu di 01.17
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Mengenai Saya

Butiran Debu
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ►  2020 (2)
    • ►  Juli (2)
  • ►  2019 (12)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2018 (6)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
  • ▼  2017 (21)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (4)
    • ▼  April (8)
      • PUISI: OMBAK
      • "Puisi Pendek"
      • PUISI: TIRAI MERAH MUDA
      • MATRE
      • Puisi : Penguasa
      • PUISI CINTA: Matahariku
      • Puisi Cinta: Rasa
      • Puis Cinta: Cinta

PUISI



..... Senja, memandangi gerimis dari jendela kamar, khayalan dalam beribu andai. Yang akhirnya mendatangkan rindu juga......


Ada rindu yang tabah,

saat cemburu mengetuk,

dan pintu membiarkannya masuk.

Puisi,

menjadi kehilangan yang begitu nyeri.

Dingin

Dingin pagi,

Bulir-bulir embun mengalir menjelma anak sungai.

Menyusuri lembah kenangan,

Tebing2 luka yg menganga tawarkan duka....

Cemburu

.....Mungkin cemburuku hanya untuk waktu, selalu hanya untuk dia dan bukan aku. Semoga sabarku selalu tabah...



Tema Kelembutan. Diberdayakan oleh Blogger.