OMBAK
Riak putih indah berarak
Kejar mengejar tak mau berhenti
Lembut jilati bibir pantai
Deburmu nyanyikan seuntai lirik
Bak kidung cinta taman surgawi
Damai sejukkan sanubari
Tak jarang kau terluka
Terhempas bebatuan
Terhempas karang-karang
Engkau tetap tak peduli
Akan sakit yang kau alami
Perih, kau tanggung sendiri
Namun, saat badai datang
Deburmu tak lagi damaikan diri
Lantang kau berteriak
Hingga hadirkan pekak
Engkau pun tak lagi perduli
Akan sakit yang kau beri
Akan pilu yang kau saji
Perih mengiris hati
Ombak tetaplah ombak
Menjelmalah seperti yang kau mau
Dengan kesadaran pasti
Semua tak ada yang hakiki
Megabdilah pada Takdir Illahi
Dini hari, 29 April 2017
Jumat, 28 April 2017
"Puisi Pendek"
Hujan seperti mengetuk pintu,
ku buru gemuruh suaranya,
ku pikir itu kamu,
ternyata hanya air saja,
dalam gigil namamu terus kupanggil...
PUISI: TIRAI MERAH MUDA
TIRAI MERAH MUDA
Dalam lingkaran waktu
Setahun pun berlalu
Di bawah langit yang sama
Sejuk ruang bertirai merah muda
Yang tak mampu redakan panas gelorah
Kita hirup udara bersama
Dalam diam kita bercengkrama
Tanpa sekat tanpa jarak
Dan,
Tak ada lagi perdebatan
Dimanakah si pintar
Dimanakah si bodoh
Tak ada lagi kamu
Tak ada lagi aku
Hanyalah kita
Lalu,
Haruskah kenang itu kita hapus dari ingatan
Saat lirih suaramu
Bisikkan kalimat indah damaikan jiwa
Dan aku hanya mampu katakan "iya"
Janji suci??
Atau mungkin hanya sebatas angin surgawi
Kini,
Terperangkap ku dalam rasa
Walau kadang kecewa menghampiri
Cemburu mewarnai
Amarah pun menghiasi
Dan keinginan tuk berlari pun meracuni
Duhai tirai merah muda
Cukuplah kamu menjadi saksi
Aku pergi atau kembali
Dengan atau tanpa mimpi
Usah kau tanyakan lagi.....
Banjarmasin, 27 April 2017
Dalam lingkaran waktu
Setahun pun berlalu
Di bawah langit yang sama
Sejuk ruang bertirai merah muda
Yang tak mampu redakan panas gelorah
Kita hirup udara bersama
Dalam diam kita bercengkrama
Tanpa sekat tanpa jarak
Dan,
Tak ada lagi perdebatan
Dimanakah si pintar
Dimanakah si bodoh
Tak ada lagi kamu
Tak ada lagi aku
Hanyalah kita
Lalu,
Haruskah kenang itu kita hapus dari ingatan
Saat lirih suaramu
Bisikkan kalimat indah damaikan jiwa
Dan aku hanya mampu katakan "iya"
Janji suci??
Atau mungkin hanya sebatas angin surgawi
Kini,
Terperangkap ku dalam rasa
Walau kadang kecewa menghampiri
Cemburu mewarnai
Amarah pun menghiasi
Dan keinginan tuk berlari pun meracuni
Duhai tirai merah muda
Cukuplah kamu menjadi saksi
Aku pergi atau kembali
Dengan atau tanpa mimpi
Usah kau tanyakan lagi.....
Banjarmasin, 27 April 2017
Selasa, 25 April 2017
MATRE
MATRE
( menurut saya )
Adalah sebuah kata yang mengandung rasa rasa subjektif dan belum bisa diberi pengertian tunggal sehingga menjadi bersifat multi tafsir serta sangat berpotensi membinggungkan dalam pemakaian serta pengungkapannya di keseharian.
Hal tersebut dimungkinkan terjadi karena, secara makna, kata tersebut dimaksudkan bagi sifat yang terlalu mengutamakan uang tanpa memikirkan hal hal lain selain uang tersebut, tapi dalam penerapan pemakaiannya di pergaulan keseharian, sering sering dipakai untuk hal hal yang tidak mutlak begitu, sehingga cendrung menjadi kata penghakiman terhadap hubungan antar manusia yang mengandung perbedaan tingkat kemampuan ekonomi ( kekayaan ). Seolah si miskin yang berhubungan dengan si kaya, pastilah berlatar uang semata, dan selalu dicap matre. Dan hal seperti itu, tentunya akan menimbulkan ketersinggungan, perdebatan, perkelahian serta kegaduhan sosial yang lain.
Bagi saya pribadi, semua hubungan sosial yang terjadi antar dua insan manusia, tidak harus dihakimi seperti itu, karena dalam hubungan kemausiaan itu bersifat multi dimensi, sehingga diluar dimensi sosial kemanusiaannya, tentunya akan terkandung pula dimensi lain, termasuk dimensi ekonomi dan terlibatnya uang serta segala sumber daya. Dengan demikian matre, dalam makna penghakiman tersebut, tidak harus dilakukan karena setiap hubungan adalah matre adanya ( dalam pengertian memerlukan materi ).
Dengan memperhatikan hirarki kebutuhan maslow, yang megraduasi tingkat kebutuhan manusia mulai dari kebutuhan faaliah, rasa aman, kasih sayang, penghargaan dan aktualisasi diri, akan terlihat bahwa pada semua hirarki kebutuhan tersebut terlibat materi. Orang jawa mengatakan, jer basuki mawa bea, semuanya butuh pengorbanan dan semuanya pada prinsipnya matre.
Secara lebih sederhana, dikenal juga adanya tiga kelompok kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Dan pemenuhan ketiga kebutuhan itupun memerlukan biaya dan berhubungan dengan ke matre an seseorang. Sehingga hubungan yang matre adalah hubungan yang normal terjadi dan penilaiannya tergantung dari tingkat ke matre annya. Yang tidak matre adalah manusia yang terbodoh, setidaknya dari aspek ekonomi dan yang matre adalah wajar serta normal sedangkan yang sangat matre adalah orang orang yang senang memanfaatkan orang lain.
Hubungan yang terlalu matre, bukan lagi hubungan sosial, bahkan bukan hubungan bisnis ekonomi tapi cendrung merupakan hubungan dengan atau antar serigala. Bukanlah manusia bukan hanya dapat menjadi makhuk sosial tapi juga bisa merupakan srigala bagi manusia yang lain.
Yang jelas, saya bukan srigala
Tapi saya juga tidak mau digolongkan bodoh
Sehingga saya memilih menjadi " MATRE ", sebagai manusia normal dan sewajarnya, bukan makhluk langit yang tidak butuh materi, yang tidak suka uang. Saya menyukai materi, termasuk uang, secara wajar dengan mensyukuri rejeki yang saya dapatkan dariNya.
Anda bagaimana ?
Puisi : Penguasa
PENGUASA
Siang yang pongah
Membungkam gelegar seluruh suara
Tecekat dan hanya sisakan rintihan lirih
Perih terpanggang terik sang surya
Panas kemurkaan menjawantah jagat raya
Wajah jelata tak berdosa
Pasi tertindas oleh yang maha
Teriakan hanya mampu ditelan kembali
Tertunduk lesu pasrah
Mengabdi pada ketidakadilan
Di seberang sana
Sorak penonton riuh gempita
Rayakan kemenangan simbol belaka
Terlena pada kemegahan dunia
Tertawakan murka sang penguasa
Wahai penguasa
Buka mata hatimu
Perluas sudut pandang mu
Pertajam pendengaranmu
Jangan biarkan terik panas hanguskan jiwamu
Wahai penguasa
Bangun dan sadarlah
Tetaplah terjaga demi visi yang maha
Jangan biarkan senyum palsu itu racuni sukma
Di pundak mu nasib jelata bertahta......
By: Ajeng Lastrie
Banjarmasin, 25 April 2017
(Bersibaku dalam kecewa)
Siang yang pongah
Membungkam gelegar seluruh suara
Tecekat dan hanya sisakan rintihan lirih
Perih terpanggang terik sang surya
Panas kemurkaan menjawantah jagat raya
Wajah jelata tak berdosa
Pasi tertindas oleh yang maha
Teriakan hanya mampu ditelan kembali
Tertunduk lesu pasrah
Mengabdi pada ketidakadilan
Di seberang sana
Sorak penonton riuh gempita
Rayakan kemenangan simbol belaka
Terlena pada kemegahan dunia
Tertawakan murka sang penguasa
Wahai penguasa
Buka mata hatimu
Perluas sudut pandang mu
Pertajam pendengaranmu
Jangan biarkan terik panas hanguskan jiwamu
Wahai penguasa
Bangun dan sadarlah
Tetaplah terjaga demi visi yang maha
Jangan biarkan senyum palsu itu racuni sukma
Di pundak mu nasib jelata bertahta......
By: Ajeng Lastrie
Banjarmasin, 25 April 2017
(Bersibaku dalam kecewa)
Sabtu, 15 April 2017
PUISI CINTA: Matahariku
MATAHARIKU
Berjuta bias warna terangmu
Membakar lembut urat nadiku
Meluluhkan berjuta luka lara ku
Mempuisikan indahnya waktu
Terbuai sempurna matahariku
Sinarmu menyusup ke lubuk sanubariku
Terangi jalan hidupku
Sejenak luluh meronta jiwaku
Takutku hilangnya hangat sinarmu
Namun, diamku tetaplah mengagumiku
Mengabdi pada guratan takdirku
juga takdirmu........
Berjuta bias warna terangmu
Membakar lembut urat nadiku
Meluluhkan berjuta luka lara ku
Mempuisikan indahnya waktu
Terbuai sempurna matahariku
Sinarmu menyusup ke lubuk sanubariku
Terangi jalan hidupku
Sejenak luluh meronta jiwaku
Takutku hilangnya hangat sinarmu
Namun, diamku tetaplah mengagumiku
Mengabdi pada guratan takdirku
juga takdirmu........
Puisi Cinta: Rasa
RASA
Rasa...
Untuk siapa kau ada
Jika hadirmu tawarkan bahagia
Siapkah kau ku peluk manja
Sudikah kau berlama-lama
Mari kita bercengkerama
Tentang duka nelangsa
Rasa
Untuk siapa kau singgah
Jika hadirmu tawarkan luka
Sudikah dadamu menampung airmata ini
Relakah kau berjaga temani malam
Mari kita berbagi cerita
Bukan tentang kesedihan tapi bahagia
Rasa
Akankah kau tetap setia
Akankah kau tetap bertahan
Kala sukma tercabik sembilu perih bernanah
Kala raga tertancap paku-paku luka berkarat
Kecewa cemburu melanda
Rasa tetaplah rasa
Tak hilang oleh amarah
Tak mati oleh kebencian
Tak sirna oleh lara
Tabah menerima
Pasrah mengabdi sanubari......
by: Ajeng Lastrie
Banjarmasin,
dini hari, 16 Maret 2017
Rasa...
Untuk siapa kau ada
Jika hadirmu tawarkan bahagia
Siapkah kau ku peluk manja
Sudikah kau berlama-lama
Mari kita bercengkerama
Tentang duka nelangsa
Rasa
Untuk siapa kau singgah
Jika hadirmu tawarkan luka
Sudikah dadamu menampung airmata ini
Relakah kau berjaga temani malam
Mari kita berbagi cerita
Bukan tentang kesedihan tapi bahagia
Rasa
Akankah kau tetap setia
Akankah kau tetap bertahan
Kala sukma tercabik sembilu perih bernanah
Kala raga tertancap paku-paku luka berkarat
Kecewa cemburu melanda
Rasa tetaplah rasa
Tak hilang oleh amarah
Tak mati oleh kebencian
Tak sirna oleh lara
Tabah menerima
Pasrah mengabdi sanubari......
by: Ajeng Lastrie
Banjarmasin,
dini hari, 16 Maret 2017
Jumat, 14 April 2017
Puis Cinta: Cinta
CINTA
Cinta...
Pelangi puitis yang tak sama makna
Manja mengharap bagi yang kasmaran
Hampa mengiris bagi yang kehilangan
Rindu mengharap bagi yang merindukan
Khayalan tanpa batas bagi yang tak teraih
Cinta...
Ibarat alunan nafas sebuah jiwa
Tak perlu diteriakkan keras atau dipaksa untuk di akui
Sebuah keagungan di balut pengorbanan
Cukup diam dengan syarat makna lewat sikap
Terkadang tak perlu selalu bersama dan cukup lewat rasa
Terkadang disemukan oleh keindahan fisik
Dikaburkan dengan gerlap materislistis
Cinta hanya perlu kejujuran hati
Jika cinta mulai mengusik, relakan binar motivasi hujani diri
Cinta...
Perlukah kita perdebatkan lagi maknanya
Sesederhana ketika aku memandangmu
Sesederhana ketika aku melihat bahagia terpancar dimatamu
Sejujur aku menampakkan rasa sayangku
Cukuplah itu; makna cinta bagiku
Banjarmasin, Februari 2017
Langganan:
Komentar (Atom)

