Selasa, 25 April 2017

MATRE

MATRE 
( menurut saya ) 

Adalah sebuah kata yang mengandung rasa rasa subjektif dan belum bisa diberi pengertian tunggal sehingga menjadi bersifat multi tafsir serta sangat berpotensi membinggungkan dalam pemakaian serta pengungkapannya di keseharian. 

Hal tersebut dimungkinkan terjadi karena, secara makna, kata tersebut dimaksudkan bagi sifat yang terlalu mengutamakan uang tanpa memikirkan hal hal lain selain uang tersebut, tapi dalam penerapan pemakaiannya di pergaulan keseharian, sering sering dipakai untuk hal hal yang tidak mutlak begitu, sehingga cendrung menjadi kata penghakiman terhadap hubungan antar manusia yang mengandung perbedaan tingkat kemampuan ekonomi ( kekayaan ). Seolah si miskin yang berhubungan dengan si kaya, pastilah berlatar uang semata, dan selalu dicap matre. Dan hal seperti itu, tentunya akan menimbulkan ketersinggungan, perdebatan, perkelahian serta kegaduhan sosial yang lain. 

Bagi saya pribadi, semua hubungan sosial yang terjadi antar dua insan manusia, tidak harus dihakimi seperti itu, karena dalam hubungan kemausiaan itu bersifat multi dimensi, sehingga diluar dimensi sosial kemanusiaannya, tentunya akan terkandung pula dimensi lain, termasuk dimensi ekonomi dan terlibatnya uang serta segala sumber daya. Dengan demikian matre, dalam makna penghakiman tersebut, tidak harus dilakukan karena setiap hubungan adalah matre adanya ( dalam pengertian memerlukan materi ). 

Dengan memperhatikan hirarki kebutuhan maslow, yang megraduasi tingkat kebutuhan manusia mulai dari kebutuhan faaliah, rasa aman, kasih sayang, penghargaan dan aktualisasi diri, akan terlihat bahwa pada semua hirarki kebutuhan tersebut terlibat materi. Orang jawa mengatakan, jer basuki mawa bea, semuanya butuh pengorbanan dan semuanya pada prinsipnya matre. 

Secara lebih sederhana, dikenal juga adanya tiga kelompok kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Dan pemenuhan ketiga kebutuhan itupun memerlukan biaya dan berhubungan dengan ke matre an seseorang. Sehingga hubungan yang matre adalah hubungan yang normal terjadi dan penilaiannya tergantung dari tingkat ke matre annya. Yang tidak matre adalah manusia yang terbodoh, setidaknya dari aspek ekonomi dan yang matre adalah wajar serta normal sedangkan yang sangat matre adalah orang orang yang senang memanfaatkan orang lain. 

Hubungan yang terlalu matre, bukan lagi hubungan sosial, bahkan bukan hubungan bisnis ekonomi tapi cendrung merupakan hubungan dengan atau antar serigala. Bukanlah manusia bukan hanya dapat menjadi makhuk sosial tapi juga bisa merupakan srigala bagi manusia yang lain. 

Yang jelas, saya bukan srigala 
Tapi saya juga tidak mau digolongkan bodoh 
Sehingga saya memilih menjadi " MATRE ", sebagai manusia normal dan sewajarnya, bukan makhluk langit yang tidak butuh materi, yang tidak suka uang. Saya menyukai materi, termasuk uang, secara wajar dengan mensyukuri rejeki yang saya dapatkan dariNya. 

Anda bagaimana ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar